Wahyu Katentreman Menggema di Kalisalak, Tradisi yang Menyatukan Warga

Budaya 08 Jun 2026 07:41 2 min read 111 views By Bang_Ali

Share berita ini

Wahyu Katentreman Menggema di Kalisalak, Tradisi yang Menyatukan Warga
"Sehari sebelum acara, kami juga melaksanakan ritual kadesonan dan upacara sesaji sebagai bentuk rasa syukur serta doa agar warga selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari segala bala," ujar Tugiono, salah satu anggota panitia.

ALMASSAKANUSANTARA.COM | Bawen, 7 Juni 2026. Malam di Dusun Kalisalak, Desa Lemah Ireng, Kecamatan Bawen, terasa berbeda. Di bawah langit yang cerah, ribuan pasang mata larut dalam suasana sakral dan penuh kebersamaan dalam pagelaran wayang kulit bertajuk "Wahyu Katentreman", yang menjadi puncak rangkaian tradisi Merti Dusun Kalisalak.

 

Pagelaran budaya yang rutin digelar setiap tahun ini menghadirkan dalang kondang asal Yogyakarta, Ki Bambang Wiji Nugroho, yang membawakan lakon sarat makna tentang harapan, kedamaian, dan kesejahteraan masyarakat.

 

Sebelum pertunjukan dimulai, prosesi adat berlangsung khidmat. Kepala Dusun Kalisalak, Magi, secara simbolis menyerahkan wayang kepada sang dalang sebagai tanda dimulainya pementasan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pentas seni dan sendratari yang menampilkan kreativitas warga setempat.

 

Bagi masyarakat Kalisalak, Merti Dusun bukan sekadar hiburan tahunan. Tradisi ini merupakan wujud syukur atas kehidupan yang telah dianugerahkan Tuhan sekaligus ikhtiar bersama untuk menjaga kerukunan dan ketentraman lingkungan.

 

"Sehari sebelum acara, kami juga melaksanakan ritual kadesonan dan upacara sesaji sebagai bentuk rasa syukur serta doa agar warga selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari segala bala," ujar Tugiono, salah satu anggota panitia.

 

Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak boleh tercerabut dari akar kehidupan masyarakat. Wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan yang menyampaikan nilai-nilai kebijaksanaan, gotong royong, dan harmoni sosial.

 

Antusiasme warga terlihat sepanjang malam. Tidak hanya masyarakat Kalisalak, penonton dari berbagai daerah turut hadir memadati lokasi pertunjukan. Mereka bertahan hingga dini hari, menikmati kisah yang dibawakan sang dalang sembari merasakan hangatnya kebersamaan yang semakin langka ditemukan di era serba digital.

 

Lakon "Wahyu Katentreman" seolah menjadi doa bersama yang dipanjatkan warga Kalisalak. Harapan agar desa tetap damai, masyarakat hidup rukun, dan generasi muda tetap mencintai warisan budaya leluhur

 

Di Kalisalak, wayang masih hidup. Bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan tradisi, spiritualitas, dan kebersamaan warga dalam menjaga harmoni kehidupan desa.

Almassaka Nusantara
Chat with us on WhatsApp